Terungkap Fakta Terkait Rachel Venya Kabur Karantina. Dugaan Suap ‘Satgas’?


175
Usai divonis bersalah terkait kabur dari proses karantina usai tiba dari luar negeri, Selebgram Rachel Vennya terseret kasus suap kepada pihak ‘Satgas’.

Selebgram Rachel Vennya diduga tak cuma melanggar protokol kesehatan kekarantinaan usai tiba dari luar negeri. Ia juga disebut melakukan penyuapan kepada pihak ‘Satgas’ untuk memuluskan aksinya.

Sumber : Google (Rachel Vennya dan Salim Nauderer di Persidangan)

Rachel divonis bersalah namun tanpa perlu menjalani hukuman penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tangerang dalam kasus pelanggaran karantina kesehatan, di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Jumat (10/12).

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat mengatakan pihaknya masih akan melakukan proses pendalaman terkait aktor-aktor dibalik layar yang turut terlibat membantu Rachel lolos dari protokol karantina kesehatan.

Kasus ini bermula saat Rachel tiba dari Amerika Serikat, Oktober. Alih-alih melakukan karantina kesehatan dengan biaya sendiri, Rachel bersama kekasih Salim Nauderer dan manajernya Maulida Khairunnisa, menjalani karantina di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan.

Padahal, wisma tersebut merupakan tempat karantina khusus yang dibiayai pemerintah untuk pejabat, pelajar, dan pekerja dari luar negeri. Dalam pengakuannya, ia dibantu oleh anggota TNI sejak di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Pelanggaran lain yang dilakukan Rachel yakni keluar dari tempat karantina sebelum waktunya. Ia hanya menjalani menjalani karantina di Wisma Atlet selama tiga hari dari total ketentuan karantina selama delapan hari.
Empat Tersangka

Rachel, Salim, dan Maulida kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini oleh penyidik dari Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Rabu, (3/11) lalu.


Sumber : Google (Rachel Vennya dan Salim Nauderer)
Selain itu, polisi juga menetapkan Ovelina Pratiwi selaku petugas protokol di Bandara Soekarno Hatta, yang juga pegawai honorer DPR, sebagai tersangka.

Dalam berkas perkara tersebut, empat tersangka ini diduga melakukan tindak pidana terkait dengan wabah penyakit menular dan atau kekarantinaan kesehatan.

Hal ini sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit dan atau Pasal 93 UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Pada kasus ini, Satuan Polisi Militer Angkatan Udara juga tengah memeriksa dua anggota TNI AU yang diduga terlibat membantu Rachel kabur dari proses karantina kesehatan, yakni FS dari Koopsau I TNI AU dan IG dari Wing 1 Paskhas TNI AU.

Usai divonis bersalah terkait kabur dari proses karantina usai tiba dari luar negeri, Selebgram Rachel Vennya terseret kasus suap kepada pihak ‘Satgas’. Ilustrasi suap. Rachel Vennya disebut menyogok Rp40 juta kepada Satgas agar tak perlu karantina. (Foto: Laudy Gracivia)

Ketika menjalankan aksinya, Rachel mengaku sempat memberikan uang sebesar Rp40 juta kepada Ovelina Pratiwi yang juga seorang pegawai honorer di DPR.

Rachel mengatakan, uang tersebut merupakan permintaan Ovelina untuk diberikan kepada pihak ‘Satgas’ agar dapat memuluskan aksi kabur tersebut. Kendati demikian, ia mengklaim uang tersebut sudah dikembalikan seluruhnya.

Hal tersebut diketahui terungkap dalam sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri Tangerang, pada Jumat (10/12) kemarin.

Dalam keterangannya, Ovelina mengatakan, pihak ‘Satgas’ mensyaratkan biaya sebesar Rp10 juta perorang agar bisa diloloskan dari karantina kesehatan. Namun, saat itu Rachel memberikan total uang senilai Rp40 juta.

Ovelina mengaku uang tersebut diterima sebelum Rachel tiba di Indonesia. Ia lantas mengirimkan uang sebesar Rp30 juta sesuai permintaan pihak ‘Satgas’ kepada rekening atas nama Kania.

Dirinya mengklaim tidak mengetahui secara pasti siapa sosok Kania ini. Ia hanya mengaku bahwa rekening atas nama Kania itu diperoleh dari Eko atau Jakarsih, yang merupakan petugas Bandara Soekarno-Hatta.

Sementara sisa uang sebesar Rp10 juta itu kemudian dibagikan kepada mereka-mereka yang membantu di lapangan. Rinciannya yakni Ovelina Rp4 juta; Eko Rp4 juta; dan Jarkasih Rp2 Juta.

Terkait alasan tak diterapkannya pasal penyuapan dalam kasus Rachel ini, kepolisian berdalih pihak yang terungkap dalam penyidikan bukan penyelenggara negara.

“Terus kenapa dia tidak terapkan UU Tipikor? Jawabannya UU Tipikor itu dikenakan Pasal 11 atau Pasal 12, subyek hukum harus pegawai negeri atau penyelenggara pemerintahan. Kalau freelance gitu itu bukan subjek hukum di UU di Pasal 11 tadi,” kata Tubagus Ade Hidayat, Senin (13/12).

Soal pihak lain di balik Ovelina, ia menyebut masih dalam proses pendalaman. Dalam kasus Rachel, pihaknya saat itu fokus menyoroti pelanggaran UU Wabah Penyakit dan UU Kekarantinaan Kesehatan.

“Orang di balik O keterlibatannya masih dikaji karena tidak terlibat langsung dengan urusan ini,” ujarnya.


Like it? Share with your friends!

175

0 Comments

Leave a Reply